Pers (memang tidak seluruhnya) telah menjadi corong bagi penguasa. Pers telah menjadi infus penguasa. Begitu juga pers daerah sudah seperti kehilangan arah. Hal itu diperburuk dengan hadirnya media online yang siap saji per menit. Namun kualitas dan akurasi dalam pemuatan berita sangat miskin ide, gagasan dan isi. Bahkan boleh dibilang asal goblek tanpa standarisasi jurnalistik yang benar. Tapi jangan dimarginalkan semua sama. Masih banyak yang berfatsun akan kaidah pers yang selalu berimbang dlm pemberitaan. Tidak menghakimi, memfitnah, bahkan beropini secara pribadi.
Paling tidak bukan hanya saya yang merasakan keanehan dengan pers kita, akhir-akhir ini. Banyak yang juga merasakan perasaan sama. Perlunya introspeksi ke dalam dan berbenah. Minimal kembali ke Marwah awal, pers sebagai wadah perjuangan dan penyambung lidah rakyat, menyuarakan kebenaran, terus beretika, bermartabat.
Sebelumnya saya juga sudah melakukan oto-kritik saat pers kita banyak bungkam dan diam. Saya merasa malu karena saya adalah bagian dari pers itu sendiri. Catatan, pemilik dan bos besar media itu adalah ketua umum partai, serta ada media besar yang lain, justru hanya memanfaatkan untuk mencari keuntungan finansial semata.










