Scroll untuk baca artikel

NewsPar-Pol

Pilu! Balita Meninggal Tubuh Penuh Cacing, DPR Sebut Ini Alarm Keras!

×

Pilu! Balita Meninggal Tubuh Penuh Cacing, DPR Sebut Ini Alarm Keras!

Sebarkan artikel ini
Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher menyebut balita yang meninggal dengan tubuh dipenuhi cacing di Sukabumi merupakan alarm keras.
Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher menyebut balita yang meninggal dengan tubuh dipenuhi cacing di Sukabumi merupakan alarm keras.

Suarapena.com, JAKARTA – Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher, mengungkapkan duka mendalam atas meninggalnya balita bernama Raya di Sukabumi yang ditemukan dalam kondisi tubuh penuh cacing. Kejadian memilukan ini menjadi tamparan keras bagi sistem perlindungan sosial dan layanan kesehatan dasar di daerah tersebut.

“Peristiwa ini bukan hanya duka yang menyayat hati, tetapi juga alarm keras bagi kita semua. Tragedi ini tidak akan terjadi jika fungsi pencegahan, pemantauan, dan perlindungan sosial berjalan dengan baik,” ujar Netty dalam keterangannya, Jumat (22/8/2025).

Advertisement

Scroll untuk terus membaca

Balita perempuan berusia empat tahun asal Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, itu sudah lama berada dalam pengawasan petugas desa karena mengalami gizi buruk atau yang dikenal dengan status BGM (bawah garis merah). Meski menjadi perhatian posyandu setempat, Raya tetap tak terselamatkan dari kondisi memprihatinkan yang akhirnya merenggut nyawanya.

Berita Terkait:  Program MBG Digenjot, Pemerintah dan DPR Mantapkan Langkah Kurangi Stunting di Bekasi

Netty menegaskan bahwa tragedi Raya harus menjadi cermin serius bagi semua pihak, khususnya perangkat desa, kader posyandu, PKK, dan bidan desa yang merupakan garda terdepan dalam menjaga kesehatan masyarakat. Ia menyoroti kelemahan dalam pendataan dan distribusi bantuan sosial yang belum mampu menjangkau seluruh warga miskin dan rentan.

“Masih banyak keluarga miskin yang terlewatkan dari data penerima manfaat, bahkan tak memiliki dokumen kependudukan dan jaminan kesehatan sehingga kesulitan mengakses layanan dasar saat darurat,” jelas Netty.

Dalam pandangannya, sistem perlindungan sosial saat ini harus segera dievaluasi agar kasus serupa tidak terulang. Perlindungan sosial seharusnya bukan sekadar program administratif, melainkan hadir nyata saat rakyat membutuhkannya, terutama bagi mereka yang paling rentan.

Berita Terkait:  Kata DPR Program MBG Masih Terpusat di Kota, Daerah 3T Belum Tersentuh

“Ini adalah panggilan serius bagi kita semua. Jangan sampai kita menunggu tragedi seperti ini terjadi lagi baru bergerak memperbaiki,” tegas Netty.

Sebagai langkah konkret, Netty mendorong penguatan peran posyandu sebagai pusat deteksi dini kesehatan anak dengan dukungan penuh dari tenaga kesehatan desa. Selain itu, akses layanan kesehatan juga harus dipermudah, termasuk bagi warga yang belum memiliki dokumen resmi.

“Kita harus pastikan posyandu berfungsi optimal dan layanan kesehatan darurat mudah dijangkau oleh seluruh warga, tanpa terkecuali,” tandasnya. (r5/aha)

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Suarapena.com | Suara Pena Mata Hati Bangsa

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca