Karena ia tak merubah perangai buruknya yang mengganggu orang lain, atau pun karena terlalu suka membicarakan saudara sesama muslim dari belakang layar. Kita tak ingin seperti itu, kan? Otomatis, hawa nafsu untuk melakukan hal buruk, pun sungguh bisa ditahan selama Ramadan.
Dan untuk membuat puasa lebih istimewa lagi, volume ibadah kita pun semakin tinggi. Alquran lebih sering dibuka, berinfak pun lebih sering dilakukan, berbagi dengan yang tak mampu pun dilancarkan. Shalat malam dilaksanakan dengan semangat. Menganggap semua muslim sebagai saudara, pun lebih terasa di bulan ini. Dan banyak dorongan melakukan kebaikan.
Belum lagi ketika masuk sepuluh hari terakhir. Selain memburu Lailatul Qadr, sepertiga akhir ini pun dinyatakan Sang Nabi sebagai pembebasan dari api neraka. Tentu banyak kawan yang semakin semangat menjadi lebih baik, bukan?
Masih melamun melihati embun dari gelas zamzam dingin, aku bertanya, apakah itu hanya terjadi di Ramadhan? Apa arti (mau) menjasadkannya di luar Ramadan, dan menjadikan kehidupan? Apakah kita hanya bisa baik ketika setan diikat? Mengapa dorongan menjadi baik itu harus hilang di luar bulan ini?










