Dan aku pun mulai memahami pesan Sang Murabbi-ku, yang mengingatkan untuk menjasadkan Ramadan dalam kehidupan kita. Plus, pesan beliau selanjutnya, “seperti kita berpuasa di Ramadan dan bersuka ria di Idul Fitri pada bulan Syawwal; jadikanlah seluruh kehidupanmu Ramadan, dan jadikanlah Idul Fitrimu yang sangat gembira dan bahagia itu kelak di akhirat!”
Kuncinya belajar, kemauan, dan memulai. Belajar membaca kekurangan diri sendiri, kemauan untuk memperbaikinya, dan memulai keduanya. Plus, berdoa agar Allah memberikan Taufiq-Nya. Amin.
“Hoi,” kawanku menyenggol pundakku, “kalau tiap sore melamun lihat gelas zamzam yang seger itu, emangnya Ramadan bakal kerasa lama?”
Kita pun tertawa-tawa lagi. Dan tak lama, adzan maghrib pun berkumandang.
Hayırlı Ramazanlar, Arkadaşlarım! (*)










