Oleh Bang Miqo
Santri Mekah asal Lamongan, Penulis Buku Renungan Qurani, dan Buku Bersama Cahaya
“Nggak kerasa ya, udah minggu terakhir aja,” ujar salah seorang kawan, sembari menata gelas berisi zamzam di depannya, bersiap untuk buka puasa.
Sambil mengambil beberapa kurma aku pun menggoda, “mainstream. Semua orang bilang gitu, apalagi buat mereka yang tidur mulu pas puasa. Nggak kerasa, lah, puasanya…” Kita berdua pun tertawa-tawa. Perasaan, itu nasib yang sama, hehehe.
Sembari melihat bening zamzam dingin yang berbulir-bulir embun di luar gelasnya, aku tertegun tiba-tiba, teringat pesan guruku di awal bulan ini: untuk menjasadkan Ramadan di kehidupan kita. Merealisasikannya sebagai manhaj hayah, pedoman hidup.
Aku yakin, semua tentu ingin menjadikan puasa sebagai salah satu ibadah istimewa yang bukan hanya sekadar menahan diri dari makan dan minum dari waktu ke waktu tertentu saja. Apalagi oleh Sang Nabi, dikatakan bahwa ada orang yang berpuasa tapi hanya mendapatkan lapar dan dahaga, tanpa mendapat pahala.










