Sepuluh hari terakhir, sembari bersiap melepas kepergian Ramadan, kesemangatan beramal kita pun berlipat dua kali lebih besar daripada dua puluh hari sebelumnya. Ini mengingatkanku, bagaimana tahun Hijriyyah dimulai dengan satu bulan mulia (Muharram), agar kita bersemangat membuka lembaran tahun baru dengan amalan baik, dan ditutup dengan dua bulan mulia (Dzul Qa’dah dan dan Dzulhijjah), agar kita lebih bersiap melepas tahun dengan amalan baik yang lebih banyak.
Nah; kita tak tahu kapan usia bakal berakhir, seperti Ramadan dan Tahun Hijriyyah berakhir. Bukannya baik jika kita selalu berusaha meningkatkan volume kebaikan kita, untuk bersiap menghadapi akhir hidup kita pula? Demi memburu Khusnul Khatimah, akhir hidup dengan menetapi Islam.
Aku segera teringat pesan Abahku, sepuluh tahun lalu sebelum aku berangkat ke Makkah, di Idul fitri terakhir di Indonesia. Beliau menyuruhku mengirim pesan selamat hari raya ke koleganya, dan berkata, “Idul Fitri bukan ‘hari kemenangan’, tapi awal peperangan melawan hawa nafsu, usai sebulan penuh kita berlatih menjadi baik selama Ramadan.”
Ya. Sebulan penuh dikita dilatih untuk mudah melawan hawa nafsu, plus mudah beribadah. Tentunya kita harus menerapkan hasil pelatihan itu di bulan-bulan selanjutnya, kan?










