Scroll untuk baca artikel

EkbisHeadlineNewsPar-Pol

Rojali dan Rohana: Alarm Nyaring Ekonomi Indonesia yang Sedang Merintih

×

Rojali dan Rohana: Alarm Nyaring Ekonomi Indonesia yang Sedang Merintih

Sebarkan artikel ini
Fenomena Rojali dan Rohana yang menjadi sorotan Anggota Komisi VI DPR RI, Mufti Anam, lantaran kondisi ekonomi di Indonesia sedang tidak baik-baik saja.
Fenomena Rojali dan Rohana yang menjadi sorotan Anggota Komisi VI DPR RI, Mufti Anam, lantaran kondisi ekonomi di Indonesia sedang tidak baik-baik saja.

Suarapena.com, JAKARTA – Fenomena unik dan viral di pusat-pusat perbelanjaan Tanah Air, yakni rombongan jarang beli (Rojali) dan rombongan hanya nanya (Rohana), ternyata bukan sekadar guyonan atau tren media sosial. Anggota Komisi VI DPR RI, Mufti Anam, menilai fenomena ini sebagai sinyal serius bahwa kondisi ekonomi masyarakat Indonesia tengah mengalami tekanan berat.

“Ini bukan sekadar iseng. Rakyat datang hanya untuk bertahan hidup, bukan untuk berbelanja,” tegas Mufti Anam dalam keterangannya, Kamis (31/7/2025).

Advertisement

Scroll untuk terus membaca

Menurutnya, jika masyarakat ramai-ramai datang ke mal dan pusat perbelanjaan hanya untuk ‘melihat-lihat’ tanpa membeli, itu menandakan bahwa daya beli sedang menurun drastis.

Fenomena Rojali dan Rohana, meski terkesan lucu, justru menjadi gambaran perubahan perilaku konsumen yang mencerminkan keprihatinan mendalam terhadap kondisi ekonomi. “Ini adalah jeritan rakyat yang sedang terhimpit,” ujar Mufti.

Berita Terkait:  Deddy Sitorus: Pemerintah Harus Adil dalam Pemberian Konsesi Tambang

Yang makin memprihatinkan, di tengah kondisi berat ini, pemerintah dinilai justru mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat kecil. Mulai dari rencana pajak influencer, pajak UMKM online, hingga kebijakan pemblokiran rekening tidak aktif, semuanya dianggap malah menambah beban masyarakat.

“Rakyat tidak pegang uang, tapi kebijakan malah makin menekan. Pemerintah seperti menutup mata atas kesulitan rakyat,” kritik Politisi PDI Perjuangan ini.

Mufti pun menegaskan, jika pemerintah tak memberi ruang tumbuh bagi ekonomi rakyat kecil, maka pergerakan ekonomi nasional akan semakin terhambat. “Bagaimana ekonomi bisa bergerak kalau rakyat kecil justru dikerangkeng kebijakan?” katanya.

Fenomena Rojali dan Rohana juga memicu keresahan di kalangan pelaku UMKM. Mereka merasa sepi pembeli karena pengunjung lebih banyak datang hanya untuk melihat-lihat, bukan berbelanja. Hal ini menambah kekhawatiran atas masa depan sektor UMKM yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi rakyat.

Berita Terkait:  Mengawal Kedaulatan Telekomunikasi Nasional, Ancaman Monopoli Asing dan Upaya Pertahanan

“Pemerintah harus segera berpikir keras membuat kebijakan yang mendukung daya beli masyarakat dan keberlangsungan UMKM. Ini soal bertahan hidup,” desak Mufti.

Mufti mengingatkan bahwa sektor ritel dan UMKM bukan entitas tunggal, melainkan bagian dari rantai ekonomi nasional yang saling bergantung. Menutup ruang tumbuh ekonomi rakyat kecil justru akan melemahkan ekonomi bangsa secara keseluruhan.

“Rojali dan Rohana bukan sekadar bahan lelucon di medsos, tapi wajah nyata Indonesia yang sedang gelisah. Mari dorong ekonomi yang benar-benar pro rakyat, jangan malah membebani mereka yang tengah berjuang,” pungkasnya. (r5/rdn)

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Suarapena.com | Suara Pena Mata Hati Bangsa

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca