Suarapena.com, LOMBOK BARAT -Krisis air mengintai ketika sumber-sumber mata air mengering satu persatu. Fenomena ini mulai terjadi di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat hingga Pulau Jawa.
Kurang lebih sebanyak 50 kepala keluarga di Kampung Lendang Kunyit, Dusun Kambeng Barat, Desa Sekotong Timur, Kecamatan Lembar, bergantung pada satu mata air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sumber air yang berada di kawasan perbukitan itu digunakan warga untuk minum, memasak, dan mencuci. Hingga kini, masyarakat setempat belum memiliki sumber air bersih alternatif.
“Ketergantungan tersebut menjadi persoalan terutama saat musim kemarau. Debit mata air berpotensi menurun, sementara kebutuhan warga tetap berlangsung. Kondisi ini dapat memicu antrean, memperpanjang jarak pengambilan air, dan menyulitkan akses warga,” kata Fahmi Adlillah, Staff Program LAZNAS Asar Humanity.
Iya mengungkapkan, ada banyak faktor penyebab sumber air mengering, seperti, penggunaan sumur bor berlebihan, penggunaan air berlebihan, tutupan lahan berkurang, dan perubahan bentang alam.
“Pada konidisi saat ini mestinya saling mendorong restorasi sumber mata air segera dan semasif mungkin. Pemerintah, perlu mengembalikan fungsi kawasan resapan, melindungi hutan dan vegetasinya. Juga perlu menata dan menegakkan regulasi terkait penggunaan air tanah,” kata Fahmi.
“Begitu juga masyarakat, agar mengurangi pembangunan paving atau pengecoran daerah atau lokasi yang bisa menyerap air hujan di pemukiman, bikin rorak atau lubang-lubang resapan air sederhana. Perlu menekankan pengelolaan air secara kolektif daripada individu, semisal mengelola sumur bersama-sama,” lanjutannya.
Sementara itu, Kepala Dusun Kambeng Barat, Abdul Aziz menilai, situasi ini menunjukkan perlunya dukungan untuk menyediakan sarana air bersih, melindungi kawasan sumber mata air, serta membangun akses air yang berkelanjutan.
“Keberadaan mata air tersebut menjadi penopang utama aktivitas rumah tangga dan keberlangsungan hidup mereka,” katanya. (sng)







