Saya tak kuasa ingin ikut juga menangis, saat Bunda Titin sapaannya, mengatakan selepas cinta bersama Gaung dan Nada dua buah hati yang sesekali mengusap punggung sang bunda yang tengah merasakan bagaimana cinta harus pergi tanpa permisi. Bagaimana menghadapi kehilangan seseorang yang begitu berarti dari hari ke hari, karena betapapun yang paling sulit dalam sebuah kehidupan ialah proses merelakan.
Begitu pula bagi saya yang dirasakan Sutardji Calzoum Bachri, tidak bisa satu kata pun runtuh dari bayangannya. Ane melekat kuat dalam ingatan, begitu dekat hingga menjadi pekat. Sungguh ungkapannya sudah menjadi puisi, begitulah puisi yang telah saya kutip di awal tulisan ini.
Saya katakan bahwa malam tadi Matahari bersinar terang sekali, Matahari dari Barat Jawa yang berkilau di Taman Ismail Marzuki tadi malam ( 3/3/2017). Saling mendekat seksama, menghabiskan malam dengan mengenang, tak sedikit kutemui air mata lahir diantara celah jendela mata orang orang tak biasa.
Perayaan yang hampir sama dengan WS. Rendra yang menyesakkan Taman Ismail Marzuki sebelumnya dengan puisi, yang keduanya sama sama dihadiri Sutardji Calzoum Bachri.










