Matahari
Di dalam slide show yang berputar semalam, suara Ane Matahari dalam sebuah dokumentasi beberapa tahun sebelumnya terdengar menyampaikan sesuatu, saya mulai memfokuskan pendengarkan ke arahnya .
“Saya pernah melihat Ada anak namanya Ola. Saat Pao membaca puisi ia menangis, lalu saya bertanya. Kenapa kamu nangis? Emang kamu tahu artinya? Ola bilang saya tidak tahu” (kurang lebih begitu)
Bagi saya Pao adalah ciri khas di Sastra Kalimalang, semua orang yang melihat Pao akan terhibur dan menyayanginya. Siapa Pao? Pao salah satu manusia yang menemukan kesejatiannya sebagai manusia, meski memiliki kelebihan yang terlahir sebagai anak down sindrom, tapi kini anak laki-laki dengan ciri khas wajahnya, ia mampu menjadi manusia yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Jiwanya mampu merenggut jiwa orang lain, dan bukankah yang dilakukan Pao sama saja dengan Mozart yang menggetarkan jiwa jiwa pendengarnya.
Pao gemar sekali membaca puisi, dimanapun kita ingin melihatnya, ia ada di youtube, di facebook, dan seringkali ia berada di bis kota rute Rawapanjang (Bekasi) biasanya. Dia tidak bisa berbicara dengan jelas memang, tapi bisa menulis meski tidak sebaik anak pada umumnya, ia sudah menunjukkan bahwa dirinya berhasil. Intelektual dalam dirinya berkembang dengan sangat baik, meski bukan pada bidang akademis, namun olah rasa dan sastra lah yang melekat di dirinya. Karakter yang ramah dan bersahaja pun bukan suatu kebetulan yang terjadi tanpa bentukan sekitarnya.










