SUARAPENA.COM – Juru bicara vaksinasi Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi menyampaikan bahwa pihaknya telah mencatat adanya penambahan konfirmasi Omicron di Indonesia.
Penambahan itu dikatakannya, sebanyak 92 kasus konfirmasi, total konfirmasi Omicron per Senin (10/1/2021) mencapai 506 kasus.
Meski begitu, Siti menilai bahwa, jika dilihat dari tingkat keparahan, mayoritas kasus Omicron tidak menunjukkan gejala atau memiliki gejala ringan, sehingga tidak membutuhkan perawatan yang serius di rumah sakit.
Oleh karena itu, Kemenkes akan menggencarkan telemedisin yang didedikasikan bagi pasien yang melakukan isolasi di rumah.
“Kami bekerjasama dengan 17 platform telemedisin untuk memberikan jasa konsultasi dokter dan jasa pengiriman obat secara gratis bagi pasien Covid-19 yang sedang menjalani isolasi di rumah, agar penanganan pasien dapat dilakukan seluas dan seefektif mungkin,” ungkap Siti, Kamis (13/1/2022).
Siti juga mengatakan, dari sisi teurapetik, Kemenkes juga akan menyertakan penggunaan obat Monulpiravir dan Plaxlovid untuk terapi pasien Covid-19 dengan gejala ringan.
Sedangkan dari sisitracing, lanjut dia, Kemenkes akan melakukan penemuan kasus aktif dengan meningkatkan tracing menjadi lebih dari 30 per kasus positif.
Selain itu, pihaknya juga akan dilakukan pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) pada level komunitas dengan target 1.700 sampai 2.000 WGS setiap bulannya.
Saat ini, pemerintah telah memulai vaksinasi dosis lanjutan atau booster Covid-19 bagi kelompok usia 18 tahun ke atas.
Hal itu dilakukan guna mempertahankan tingkat kekebalan serta memperpanjang masa perlindungan dari Covid-19 termasuk Omicron.
Penambahan kasus konfirmasi Omicron, dikatakan Siti, masih didominasi oleh Pelaku Perjalanan Luar Negeri (PPLN). Dari 506 kasus konfirmasi hanya 84 kasus yang merupakan transmisi lokal.
“Selain kasus konfirmasi, angka probable Omicron juga terus mengalami peningkatan. Hingga Senin (10/1/2022) terdeteksi sebanyak 1.384 probable Omicron yang didapatkan dari S Gene Target Failure (SGTF),” katanya.
“Kalau kita perhatikan, juga terlihat peningkatan yang signifikan dari angka kasus harian di mana dari sejumlah 454 menjadi 802, naik hampir dua kali lipat,” lanjut Siti.
Oleh karenanya, masyarakat diminta untuk tetap waspada terkait potensi lonjakan kasus, mengingat karakteristik Omicron yang memiliki tingkat penyebaran yang sangat cepat.
“Jika dilihat dari perkembangannya, konfirmasi omicron cenderung mengalami peningkatan, dari pemeriksaan SGTF, kasus probable Omicron pada PPLN cenderung meningkat, hasil WGS juga menunjukkan proporsi varian Omicron yang mulai mendominasi,” pungkasnya. (Bo/Hms)










