Suarapena.com, YOGYAKARTA – Batik Salem khas Kabupaten Brebes kembali diperkenalkan ke pasar nasional melalui ajang Jogja Fashion Week (JFW) 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, baru-baru ini.
Keikutsertaan tersebut menjadi salah satu upaya Pemerintah Kabupaten Brebes memperluas pasar sekaligus memperkenalkan batik khas daerah kepada masyarakat di luar Brebes.
Batik Salem tampil dalam koleksi busana hasil kolaborasi Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Brebes dengan desainer Defrico Audy.
Bupati Brebes Paramitha Widya Kusuma mengatakan, promosi melalui ajang fesyen nasional menjadi kesempatan untuk membawa produk unggulan daerah agar semakin dikenal.
“Kami ingin produk lokal kami, produk unggulan Brebes yang selama ini kami banggakan bisa dipamerkan di setiap daerah dan dikenal oleh masyarakat yang lebih luas,” kata Paramitha dalam keterangannya, Rabu (19/8/2026).
Menurut Paramitha, promosi Batik Salem melalui panggung fesyen nasional sebelumnya juga dilakukan dalam Jakarta Fashion Week 2025.
Keikutsertaan tersebut disebut berdampak terhadap peningkatan permintaan kain khas Brebes. Sejumlah pengrajin bahkan sempat kewalahan memenuhi pesanan yang datang dari berbagai daerah.
“Setelah kita mengikuti Jakarta Fashion Week, antusias untuk membeli kain Brebes sendiri semakin meningkat. Pengrajin kami juga sempat kewalahan karena banyak sekali banjiran order dari beberapa daerah,” ujarnya.
Meski permintaan meningkat, Pemkab Brebes menilai pemasaran secara digital masih perlu diperkuat.
Kemudahan konsumen dari luar daerah untuk mendapatkan Batik Salem secara daring menjadi salah satu perhatian pemerintah daerah.
Pemkab Brebes pun mendorong pelaku UMKM memanfaatkan berbagai platform digital, termasuk TikTok dan fitur keranjang kuning, sehingga konsumen dapat membeli produk secara langsung melalui kanal daring.
“Ke depannya kami akan membantu untuk pemasaran Batik Salem sendiri, Batik Brebes,” kata Paramitha.
Dalam JFW 2026, Defrico Audy tetap mempertahankan karakter Batik Brebes melalui penggunaan warna gelap atau sogan, seperti cokelat, tembaga, dan hitam.
Agar tampil lebih modern, koleksi tersebut dipadukan dengan bordir bermotif bunga menggunakan warna marun, merah, dan tembaga.
Defrico mengatakan kolaborasi dengan Dekranasda Brebes kali ini merupakan yang kedua. Sebelumnya, ia memberikan pelatihan kepada pengrajin untuk mengembangkan motif kain tenun dan batik Brebes.
Ia menjelaskan, koleksi yang ditampilkan membawa filosofi tentang perjalanan dari kegelapan menuju terang.
“Filosofi daripada kain tersebut sebenarnya adalah lebih dari kegelapan akhirnya muncul keterangan. Jadi, dari sesuatu yang mati suri akhirnya timbul ke permukaan dengan warna-warna yang cerah,” jelas Defrico.
Defrico berharap kolaborasi tersebut dapat berlanjut melalui pelatihan dan pendampingan bagi para pengrajin. Ia juga mendorong munculnya desainer-desainer baru dari Brebes.
JFW 2026 merupakan penyelenggaraan ke-21 dengan mengusung tema “Roots to Resonance, Beyond”.
Kegiatan tersebut mempertemukan kekayaan budaya lokal dengan perkembangan industri fesyen. JFW 2026 melibatkan 164 desainer, 114 model, 20 finalis Jogja Fashion Designer Competition, serta 132 stan industri kecil dan menengah.
Selain peragaan busana dan pameran, JFW 2026 juga menghadirkan Fashion Talk yang membahas perkembangan industri fesyen serta peluang pengembangannya.
Bagi Brebes, kehadiran Batik Salem dalam ajang tersebut menjadi momentum untuk memperkuat posisi kain tradisional daerah di pasar nasional, sekaligus membuka peluang baru bagi pengrajin dan pelaku UMKM. (sp/pr)







