Suarapena.com, SEMARANG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana pada masa pancaroba, yakni periode peralihan dari musim hujan ke musim kemarau yang tahun ini turut dipengaruhi fenomena El Nino.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, mengatakan, berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), saat ini wilayah Jawa Tengah masih berada dalam masa transisi musim yang ditandai dengan cuaca ekstrem seperti hujan lebat disertai angin kencang.
“Secara umum sudah mulai memasuki musim kemarau, namun kondisi saat ini masih dalam fase pancaroba dengan potensi hujan lebat dan angin kencang,” ujarnya, Kamis (16/4/2026).
Bergas menjelaskan, fenomena El Nino diperkirakan akan meningkatkan intensitas musim kemarau di sejumlah wilayah, termasuk Jawa Tengah. Puncak kemarau diperkirakan dapat terjadi pada 2026 hingga 2027, mengacu pada pola kejadian serupa pada periode sebelumnya.
Menghadapi kondisi tersebut, BPBD Jateng telah mengimbau pemerintah kabupaten/kota untuk memperkuat kesiapsiagaan, terutama dalam pemenuhan kebutuhan air bersih di daerah rawan kekeringan.
Sejumlah langkah telah disiapkan, di antaranya pembangunan sumur dalam, pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM), serta penyiapan armada tangki air untuk distribusi bantuan ke wilayah terdampak.
“Upaya penguatan terus dilakukan, termasuk penambahan sumur dalam dan pembangunan SPAM melalui program pemerintah daerah,” kata Bergas.
Berdasarkan data BPBD, sejumlah daerah yang kerap mengalami krisis air bersih saat musim kemarau antara lain Klaten, Sragen, Grobogan, Blora, Rembang, serta beberapa wilayah pesisir utara Jawa Tengah.
Selain pemerintah daerah, penanganan kekeringan juga melibatkan pemerintah pusat, dukungan CSR, serta kolaborasi lintas sektor. BPBD juga telah melakukan rapat koordinasi untuk memperkuat langkah antisipasi.
BPBD turut mendorong masyarakat untuk mulai melakukan upaya adaptasi sejak musim hujan melalui konsep “menabung air”, yakni menyimpan cadangan air untuk menghadapi musim kemarau.
Masyarakat dapat memanfaatkan tandon atau wadah penampungan sederhana dengan kapasitas 2.000 hingga 5.000 liter yang dapat dibangun secara swadaya di tingkat lingkungan.
“Prinsipnya menyiapkan cadangan air sejak dini, bisa melalui tandon atau wadah sederhana di tingkat RT maupun RW,” ujarnya.
BPBD juga mengingatkan potensi bencana lain yang meningkat pada musim kemarau, seperti kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kebakaran permukiman.
Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan dan menyiapkan langkah pencegahan sederhana, termasuk peralatan pemadam api ringan serta menjaga lingkungan agar tidak memicu kebakaran.
Untuk kawasan hutan dan pegunungan, para pendaki dan masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran, seperti membuang puntung rokok sembarangan.
BPBD juga menyoroti dampak lanjutan dari kerusakan hutan akibat kebakaran yang dapat memperburuk risiko bencana hidrometeorologi, termasuk banjir bandang saat musim hujan.
“Kerusakan di kawasan hutan dapat berdampak pada meningkatnya risiko bencana di musim hujan berikutnya,” kata Bergas. (sp/pr)










