Biksu Wawan namanya, seperti dikisahkan Prabu Diaz. Pria yang disebutnya telah menjadi Wali Budha dan menimba ilmu mendalam di Thailand. Tahun ini biksu tersebut bersama rombongan pun menjalani ritualnya menuju ke Candi Borobudur.
Perjalanan thudong sendiri telah dijalankan sejak dahulu bahkan dengan melintasi negara-negara islam. Sejumlah negara seperti Yaman, Lebanon, Syria, Hadramaut, disebut-sebut pernah dilintasi thudong.
Hal inilah yang kemudian mendasari perjalanan thudong atas gagasan Biksu Wawan. Sementara sejumlah negara islam pernah dilintasi ritual thudong, mengapa Indonesia yang memiliki Candi Borobudur belum?
Dalam perjalanan thudong ini dapat diajarkan bagaimana toleransi yang tinggi ada di dalamnya. Bagaimana tidak, para biksu yang merupakan penganut agama budha ternyata dikawal oleh Laskar Macan Ali Kesultanan Cirebon yang seluruhnya beragama islam.
Atas dasar toleransi dan Bhineka Tungga Ika, Prabu Diaz berani mengemban tugas sebagai penanggung jawab dalam perjalanan internasional thudong ke Indonesia.
“Kita punya sejarah toleransi yang panjang, sejak zaman penyebaran islam seperti di Cirebon banyak pelajaran yang dapat kita ambil,” kata dia sambil mengisahkan rentetan kisah sejarah islam di Cirebon. (sng)







