Suarapena.com, JAKARTA – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengumumkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) pada Rapat Kerja Nasional BKKBN baru-baru ini.
Dari hasil SSGI, prevalensi stunting di Indonesia turun dari 24,4 persen di tahun 2021 menjadi 21,6 persen di tahun 2022.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, sebelumnya SSGI diukur tiga tahun sekali sampai lima tahun sekali. Mulai 2021, SSGI dilakukan setiap tahun untuk mengukur target stunting di Indonesia.
“Metode survei seperti ini sudah kita lakukan selama 3 tahun, bekerja sama dengan Fakultas Kesehatan Masyarakat UI. Kita akan perbaiki ke depannya kalau bisa by name by address. Kita usahakan ke sana, tapi kita secara bertahap tetap memakai metode pengukuran yang memang sudah sebelumnya dilakukan,” ujar Menkes Budi dalam keterangan tertulis, Kamis (26/1/2023).
Secara jumlah disampaikan Menkes, yang paling banyak penurunan angka stuntingnya adalah Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara, dan Banten.
Penurunan stunting ini terjadi di masa pandemi bukan terjadi di masa biasa. Lantaran itu, di masa yang normal tahun ini penurunan kasus stunting diharapkan bisa lebih tajam lagi. Sehingga, target penurunan stunting di angka 14 persen di tahun 2024 dapat tercapai.
Untuk Kemenkes sendiri, sudah mulai melakukan intervensi spesifik melalui dua cara utama, yakni intervensi gizi pada ibu sebelum dan saat hamil, serta intervensi pada anak usia 6 sampai 2 tahun.
Sementara, Kepala BKKBN Hasto Wardoyo menekankan, tujuan menurunkan stunting di Indonesia adalah sesuai dengan Perpres nomor 72 tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting dengan 5 pilar.
Pilar pertama adalah komitmen, pilar kedua adalah pencegahan stunting, pilar ketiga adalah harus bisa melakukan konvergensi, pilar keempat ialah menyediakan pangan yang baik, dan pilar kelima melakukan inovasi terobosan dan data yang baik.
“Inilah pilar yang kita tegakkan, dan kami terima kasih kepada seluruh kementerian/ lembaga yang mendukung. Pak Menkes dengan menyediakan USG dan alat-alat ukur terstandar yang baik sekali,” ucap Hasto. (Sp/Pr)










