Suarapena.com, BATANG – Sebanyak 664 calon jemaah haji Kabupaten Batang telah mengurus paspor melalui layanan jemput bola Izzi Paspor di Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kabupaten Batang.
Layanan ini memudahkan calon jemaah karena mereka tak perlu lagi datang ke Kantor Imigrasi dan Kemasyarakatan Kelas I Pemalang untuk membuat paspor.
Kepala Kantor Kemenhaj Batang, Siti Mahmudah, mengatakan layanan tersebut merupakan upaya mendekatkan pelayanan kepada calon jemaah haji.
“Sedangkan 220 lainnya karena sebagian sudah ada yang punya paspor dan masih aktif. Ada pula yang menunda, masih di luar kota, bahkan karena telah meninggal dunia,” kata Siti, Rabu (23/9/2026).
Dari total 884 calon jemaah haji yang telah dirilis, sebanyak 664 orang sudah memanfaatkan layanan pembuatan paspor tersebut.
Siti menjelaskan, calon jemaah yang hendak membuat paspor perlu menyiapkan sejumlah dokumen.
Di antaranya salinan KTP, Kartu Keluarga (KK), buku nikah, dan ijazah. Jemaah juga harus menyertakan Surat Pendaftaran Pergi Haji (SPPH) serta bukti Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BIPIH).
Pelayanan dilakukan dengan dukungan Kemenhaj bersama Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH).
Untuk pembayaran biaya pembuatan paspor, calon jemaah juga tak perlu mencari tempat lain. Petugas bank telah disiapkan di Kantor Kemenhaj Batang.
“Yang lebih praktis lagi, jemaah membayar biaya pembuatan paspor cukup di petugas bank yang disiapkan di dalam Kantor Kemenhaj. Besaran biayanya Rp 650 ribu untuk masa lima tahun,” ujar Siti.
Kemudahan layanan tersebut dirasakan calon jemaah haji asal Desa Sengon, Kecamatan Subah, Muhsinin dan Listiana.
Muhsinin mengatakan seluruh tahapan pengurusan paspor dapat dilakukan di satu tempat.
“Seluruh alurnya ada di sini, cukup beberapa menit, cuma yang agak lama itu waktu ngantrenya. Kalau bisa tolong lebih cepat lagi,” ujarnya.
Sebagai calon jemaah haji berkebutuhan khusus, Muhsinin juga berharap kemudahan pelayanan diberikan hingga jemaah berada di Tanah Suci.
Ia berharap lokasi penginapan jemaah dapat ditempatkan lebih dekat agar memudahkan mereka yang memiliki keterbatasan fisik.
“Semoga tempat menginapnya juga didekatkan karena kondisi fisik yang tidak sempurna dan biayanya pun lebih efisien dengan tidak mengurangi kualitas layanan selama di Mekah dan Madinah,” katanya. (sp/pr)







