Hijrah tidak lantas membuat kita jadi suci, justru kita hijrah karena kita sadar, kita kotor. Lalu mengapa kita menghakimi kekotoran orang, sementara kita juga tak lepas itu?
Saat hijrah diumbar ke publik, tanpa kesiapan ilmu dan amal, sebenarnya kita sedang mencelakakan diri kita sendiri. Apa artinya pujian dari manusia, sementara inti dari hijrah yaitu keridhaan Allah belum tentu kita dapat.
“Sesungguhnya pujian itu bagaikan sayatan pedang,” pernah dengar di pengajian, kata ustadnya Rasulullah SAW pernah ngomong begitu sob.
Inilah krusialnya, ketika hijrah dicetuskan, pujian manusia jadi cobaan. Terasa berat, karena pembuktian pada manusia itu menjebak ketulusan kita pada hasrat eksistensi.
Hijrah jadi berat, karena kita memaksa diri kita masuk ke level amal yang bukan level kita. Kita memaksa diri kita jadi sosok yg diteladani, jadi barometer menggurui orang lain, bahkan menghakimi orang lain demi penilaian manusia terhadap diri kita. Ini hasrat duniawi tanpa sadar. Bajunya islami, tujuannya pengakuan duniawi.










