Tapi tenang sob, sesantai-santainya anak pantai, hijrah lebih nyantai kok. Lebih asyik. Karena meski Allah udah kasih tantangan di surat Al-Ankabut ayat 2 itu, Allah juga udah ngasih solusinya sob. Ibarat ujian, contekannya udah disiapin juga. Contekannya begini sob:
“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan,” (As-Shaff: 3).
Yang saya sadari, hijrah jadi berat, karena kita sering overlapping beretorika. Bicaranya ketinggian. Saat sudah tinggi kita sibuk merendahkan orang ketimbang mengajak, merangkul atau menjadi teladan.
Baru sehari hijrah sudah deklarasi ke seantero penghuni facebook, sebar foto instagram, bikin jumpa pers sana sini. Bukan masalah boleh nggak boleh, tapi ini soal euforia hijrahnya yang berbahaya. Berbahaya buat siapa? Buat orang yang hijrah itu sendiri.
Saya menyadari, bahwa hijrah itu bukan soal deklarasi dan eksistensi kita di depan manusia. Hijrah bukan soal perpindahan alur hidup sehari dua hari. Hijrah adalah sebuah perjalanan menuju Allah SWT, yang prosesnya terjadi seumur hidup kita.










