Di akhir, Nabi pun memberi pelajaran dengan halus, “begitu juga orang lain. Mereka tak rela, jika ibu, saudari, bibi dari pihak ayah atau ibu mereka dizinahi.” Dan lalu beliau mendoakan kebaikan pada anak muda itu. Hasilnya? Dia tersadar, dan sama sekali tak mendekati zina seumur hidupnya.
Dan itu pula pelajaran bagi para shahabat yang sebelumnya emosi menyangka itu problem hati dan keimanan, bahwa: tidak, itu bukan problem hati. Itu hanya masalah dalam cara berpikir, dan jawablah itu dengan bijak, plus hadapi dengan cara berpikir juga. Bukan dengan emosi!
Mendengar hadits itu, sebagai muslim, kita seharusnya meniti jalan tersebut juga, bukan? Hadapi kesalahan berpikir seseorang dengan cara yang baik, yang dapat menyelesaikan kesalahan itu. Bukan dengan celaan, paksaan, cemoohan. Itu bukan cara Islam!
Di sana banyak kawan sesama muslim yang sedang terjebak problem otak ini. Mereka yakin betul bahwa Islam itu benar, dan ia tak ada keraguan sama sekali. Tapi, ada beberapa masalah yang belum mereka fahami. Mereka menunggumu, wahai muslim yang semangat ber-Islam, untuk menjelaskan dengan meyakinkan bahwa mereka salah, dan mereka mau kembali kepada kebenaran. Bukan menunggu cemoohan, celaan, paksaan dan sikap kerasmu!










