Scroll untuk baca artikel

HeadlinePena Kita

Problem Otak, atau Problem Hati?

×

Problem Otak, atau Problem Hati?

Sebarkan artikel ini
Ramadan di Dunia Hari Raya di Akhirat
Bang Miqo Santri Mekah asal Lamongan, Penulis Buku Renungan Qurani, dan Buku Bersama Cahaya

Dan bukan sekali dua kali, Nabi selalu menyelesaikan problem cara berpikir ini dengan kebijaksanaan penuh, dan penjelasan meyakinkan. Dan tak pernah beliau mencemooh, mencela, memaksa dan bersikap keras.

Lalu, bagaimana dengan problem hati atau keyakinan? Dengan mereka yang memiliki keraguan tentang Islam?

Advertisement

Scroll untuk terus membaca

Lagi-lagi, bukan dengan cemooh, celaan, paksaan dan sikap keras. Bahkan beliau meniti jalan yang digariskan Alquran, untuk mengajak mereka yang masih memiliki keraguan tentang Islam untuk berpikir tentang penciptaan semesta alam, keesaan Tuhan, dan sebagainya.

Berita Terkait:  Ironi Kerusakan Suatu Negeri

Dan yang terpenting, beliau tak memaksakan Islam pada orang non-muslim. Laa iqraha fiddin, tak ada pemaksaan untuk memeluk agama Islam. Beliau mengajak berdialog, dan membiarkan dia mengikuti apa yang dia yakini. Tak ada namanya masuk Islam karena syarat kalah menang dalam debat, atau sebagainya.

Berita Terkait:  Empat Kekhawatiran Jika Pemilu Terapkan Mekanisme Proporsional Tertutup

Contohnya, Rukanah, si pegulat dari Quraisy. Nabi mengajaknya masuk Islam di awal dakwah beliau, tapi Rukanah terus menolak. Bahkan ketika ia sudah melihat mukjizat Nabi di depan matanya, ia terus tak bersedia beriman. Dan Nabi tak memaksakan. Karena iman bukan paksaan, tapi keyakinan hati, kepuasan hati. Rukanah baru masuk Islam, usai Pembebasan Kota Makkah. Radhiyallah ‘anhu.

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Suarapena.com | Suara Pena Mata Hati Bangsa

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca