Dan bukan sekali dua kali, Nabi selalu menyelesaikan problem cara berpikir ini dengan kebijaksanaan penuh, dan penjelasan meyakinkan. Dan tak pernah beliau mencemooh, mencela, memaksa dan bersikap keras.
Lalu, bagaimana dengan problem hati atau keyakinan? Dengan mereka yang memiliki keraguan tentang Islam?
Lagi-lagi, bukan dengan cemooh, celaan, paksaan dan sikap keras. Bahkan beliau meniti jalan yang digariskan Alquran, untuk mengajak mereka yang masih memiliki keraguan tentang Islam untuk berpikir tentang penciptaan semesta alam, keesaan Tuhan, dan sebagainya.
Dan yang terpenting, beliau tak memaksakan Islam pada orang non-muslim. Laa iqraha fiddin, tak ada pemaksaan untuk memeluk agama Islam. Beliau mengajak berdialog, dan membiarkan dia mengikuti apa yang dia yakini. Tak ada namanya masuk Islam karena syarat kalah menang dalam debat, atau sebagainya.
Contohnya, Rukanah, si pegulat dari Quraisy. Nabi mengajaknya masuk Islam di awal dakwah beliau, tapi Rukanah terus menolak. Bahkan ketika ia sudah melihat mukjizat Nabi di depan matanya, ia terus tak bersedia beriman. Dan Nabi tak memaksakan. Karena iman bukan paksaan, tapi keyakinan hati, kepuasan hati. Rukanah baru masuk Islam, usai Pembebasan Kota Makkah. Radhiyallah ‘anhu.










