Contoh lainnya, Shafwan ibn Umayyah. Makkah sudah takluk, tapi ia masih tak mau masuk Islam. “Wahai Muhammad,” ujarnya, “tangguhkan aku hingga dua bulan, agar aku tahu bagaimana sebenarnya Islam.” Ia minta penangguhan waktu agar ia tetap di Makkah di tengah komunitas muslim baru meski ia sendiri bukan muslim, dan ingin tahu bagaimana Islam sebenarnya. Nabi menjawab, “aku tangguhkan kamu hingga empat bulan!” Bukan hanya dua bulan seperti permintaannya!
Dan selang beberapa minggu, belum sampai dua bulan, Shafwan pun masuk Islam. Karena kini ia sudah yakin dengan kebenaran yang dibawa Islam. Bukan dengan tekanan, bukan dengan paksaan. Apalagi cemooh dan celaan.
Nah, setelah tahu bagaimana Nabi memperbaiki problem hati ataupun problem otak, apakah kita tak tergerak sedikitpun untuk mengikuti cara beliau?










