Suarapena.com, BALI – Puteri Anetta Komarudin, anggota Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI, menghadiri diskusi dalam Workshop Aksi Demokrasi yang diselenggarakan oleh Kementerian Luar Negeri RI bekerja sama dengan Westminster Foundation for Democracy (WFD). Dalam diskusi tersebut, Puteri mendapatkan banyak wawasan baru.
Salah satu poin penting yang dibahas adalah bagaimana berbagai negara berhasil meredam risiko teknologi yang digunakan untuk melakukan kekerasan terhadap perempuan.
“Ada beberapa contoh bagaimana masyarakat sipil telah berkolaborasi dengan parlemen dan pemerintah untuk mengatur teknologi dan media sosial, sehingga percakapan-percakapan yang berpotensi menyerang perempuan dapat dicegah sejak awal,” kata Puteri setelah diskusi yang berlangsung di Bali, Kamis (30/11/2023).
Puteri menekankan pentingnya literasi digital mengingat dampak negatif penggunaan media sosial dan teknologi yang berlebihan saat ini. Ia juga belajar bagaimana beberapa negara telah berhasil menerapkan edukasi literasi digital, mulai dari anak-anak hingga mahasiswa.
“Ada contoh dimana seorang anak SD memilih untuk bunuh diri karena handphone-nya diambil oleh orang tuanya. Ini adalah isu yang sangat serius. Jika kita tidak mengatur dan mengendalikan hal ini sejak sekarang, tentu akan berdampak sangat buruk bagi masa depan bangsa kita,” jelasnya.
Sebagai penutup, politisi Fraksi Partai Golkar ini mengapresiasi penyelenggaraan diskusi oleh WFD. Menurutnya, diskusi-diskusi dengan berbagai negara sangat penting untuk memberikan masukan dalam pembuatan regulasi dan implementasinya di masyarakat. (bia/rdn)










