Suarapena.com, JAKARTA – Anggota Komisi VII DPR RI, Putra Nababan, menyoroti penurunan target kinerja sektor ekonomi kreatif pada 2026, yang dinilainya mencerminkan sikap pesimistis pemerintah. Penurunan tersebut meliputi target nilai ekspor yang turun hingga Rp23 triliun dan penyerapan tenaga kerja yang berkurang 1,34 juta orang.
“Saya agak khawatir dengan sikap pesimis ini. Target ekspor 2026 justru turun Rp23 triliun dan tenaga kerja berkurang 1,34 juta. Ini angka yang serius. Jangan sampai publik memaknainya seolah akan ada jutaan orang kehilangan pekerjaan,” kata Putra dalam rapat kerja dengan Kementerian Ekonomi Kreatif di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Kamis (22/1/2026).
Menurut Putra, dalam praktik dunia usaha, penetapan target sebaiknya bersifat progresif dan meningkat dari tahun ke tahun. Penurunan target seharusnya disertai penjelasan yang jelas, terutama karena pengumuman tersebut dilakukan di awal tahun anggaran.
Putra menambahkan, pada 2025, sektor ekonomi kreatif mampu menyerap sekitar 27 juta tenaga kerja dengan nilai ekspor mencapai 29,21 miliar dolar AS. Namun, besarnya serapan tenaga kerja belum sepenuhnya berdampak pada kesejahteraan pekerja.
“Kalau dihitung kasar, rata-rata pendapatan per orang hanya sekitar Rp16 juta per tahun. Artinya, meski tenaga kerja terserap besar, nilai ekonomi yang diterima pekerja masih relatif rendah,” ujar legislator Fraksi PDIP itu.
Selain itu, ia menyoroti ketimpangan aliran investasi di sektor ekonomi kreatif. Putra menilai investasi cenderung masuk ke subsektor low labor, seperti aplikasi digital, sementara subsektor padat karya, seperti kuliner, fesyen, dan kriya, masih tertinggal.
“Subsektor aplikasi itu menyerap tenaga kerja sedikit, berbeda dengan kuliner, fesyen, dan kriya yang padat karya. Namun, investasi lebih besar justru mengalir ke sektor yang minim tenaga kerja,” ucap Putra. (r5/we)










