Scroll untuk baca artikel

Suara Jateng

Perkuat Tata Kelola Birokrasi dengan RB Tematik Penanggulangan Kemiskinan

×

Perkuat Tata Kelola Birokrasi dengan RB Tematik Penanggulangan Kemiskinan

Sebarkan artikel ini
Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Abdullah Azwar Anas saat memberikan arahan dalam peluncurna program Reformasi Birokrasi (RB) Tematik Penanggulangan Kemiskinan di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Jumat (21/10/2022). (Dok. Humas Kemenpan RB)
Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Abdullah Azwar Anas saat memberikan arahan dalam peluncurna program Reformasi Birokrasi (RB) Tematik Penanggulangan Kemiskinan di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Jumat (21/10/2022). (Dok. Humas Kemenpan RB)

Suarapena.com, YOGYAKARTA – Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Abdullah Azwar Anas meluncurkan program Reformasi Birokrasi (RB) Tematik Penanggulangan Kemiskinan di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Jumat (21/10/2022).

Program RB Tematik Penanggulangan Kemiskinan ini didesain untuk memperkuat tata kelola birokrasi guna mengakselerasi pengentasan kemiskinan.

Advertisement

Scroll untuk terus membaca

Terdapat sembilan pemerintah daerah yang menjadi pilot project penerapan RB tematik penanggulangan kemiskinan pada tahap pertama, dan 23 pemda pada tahap kedua.

“Pengentasan kemiskinan adalah program prioritas Presiden Jokowi. Itulah kenapa kita bikin RB Tematik kemiskinan.

Kita akan memperkuat tata kelola birokrasinya, jadi bukan pada program kemiskinannya, karena kalau bicara program tentu tergantung karakteristik daerah,” tutur Menteri Anas.

Berita Terkait:  Soal Penghapusan Tenaga Honorer, DPR Minta Pemerintah Tinjau Ulang

RB tematik penanggulangan kemiskinan lanjut Anas, akan mengintervensi dan memperbaiki aspek tata kelola pengentasan kemiskinan melalui perbaikan proses bisnis, perbaikan regulasi/kebijakan, hingga reformulasi program/kegiatan.

“Program ini diharapkan bisa berdampak dan dirasakan masyarakat, dan bukan hanya soal prosedural administratif,” katanya.

Anas mengaku terdapat sejumlah tantangan dalam pengentasan kemiskinan, diantaranya terdapat target penurunan kemiskinan di level 7 persen pada 2024, dan target kemiskinan ekstrem 0 persen ditahun yang sama pula.

Namun, hal itu dapat ditepis dengan komitmen bersama dan kemauan untuk berkolaborasi.

Di tempat yang sama, Rektor UGM Prof. Ova Emilia berharap birokrasi bukan sekadar instrumen teknis atau mesin pelaksana mekanis namun menjadi cerminan dari sebuah penataan cara berpikir dan habitus bertindak.

Berita Terkait:  Sebanyak 16.990 ASN, TNI, dan Polri Bakal Pindah ke IKN

“Maka dititik ini birokrasi memberikan roh dalam keberlangsungan sistem tata kelola pemerintahan, termasuk soal pengentasan kemiskinan,” ujar Prof. Ova.

Jika dilihat dalam sudut pandang filosofi, Gubernur D.I Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan, kemiskinan perlu dilihat tidak hanya dari sudut pandang ekonomi semata.

Tetapi harus dimoderasi melalui pendidikan karakter, dengan meng-update nilai-nilai gemi, nastiti, ngati-ngati selaras dengan konteks kekinian melalui intervensi literasi keuangan.

“Inilah yang dimaksud dengan konsep transformasi dari nilai filosofis ke nilai praksis,” ungkapnya.

Turut hadir dalam acara tersebut diantaranya Dewan Guru Besar UGM, Majelis Wali Amanat UGM, Senat Akademik dan Dekan Fakultas UGM, serta para kepala daerah yang menjadi pilot project. (Bo/Pr)

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Suarapena.com | Suara Pena Mata Hati Bangsa

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca